FAKTOR TEMPAT PEMBERIAN OBAT DAN FAKTOR ZAT AKTIF YANG MEMPENGARUHI BIOFARMASETIKA OBAT
Biofarmasetik merupakan ilmu yang mempelajari
hubungan antara sifat fisika-kimia formulasi obat dengan ketersediaan hayati
obat. Biofarmasetika terkait dalam penentuan aktivitas obat mulai dari bentuk
sediaan hingga dapat memberikan respom farmakologis. Banyaknya factor yang
mempengaruhi biofarmasetika seperti tempat pemberian obat. Tempat pemberian
obat terkait dengan bagian tubuh mana yang akan digunakan sebagai tempat
masuknya obat kedalam tubuh. Peroral, merupakan salah satu cara pemberian obat
melalui bagian mulut, bentuk sediaannya meliputi sirup, emulsi, kapsul, tablet,
dan lain-lain. Untuk mendapatkan respon farmakologis yang baik, maka perlu
diperhatikan tempat pemberian obat terkait keadaan patologis dari bagian tubuh
tersebut. Pada proses peroral, keadaan mulut perlu diperhatikan sebagian besar
bentuk sediaan yang diberikan akan ditelan dengan atau tanpa segelas air. Waktu
tinggal dimulut sangat singkat untuk memungkinkan terjadinya suatu absorpsi.
Adanya air liur mempengaruhi dapat mempengaruhi proses absorbsi. Sebaliknya
pada bentuk sediaan tablet hisap, dikunyah, melebur atau melarut dibawah lidah
membutuhkan air liur untuk membantu
pelepasan zat aktif. Factor tempat pemberian dipengaruhi oleh faktor fisiologi
dan patologi. Faktor fisiologi meliputi : 1.
Permukaan penyerapan pada lambung terdapat mukosa lambung dapat menyerap
obat yang diberikan secara peroral dan tergantung pada keadaan, lama kontak
menetukan teradinua penuerapan pasif dari zat aktif lipofil dan bentuk tak
terionlan pada pH lsmbung yang asam (asam lemah seperti asam salisilat,
barbiturate). Pada usus alus mempunyai luas permukaan penyerapan 40-50 m2.
Penyerapan pasif dapat terjadi secara kuat pada daerah tertentu tanpa
mengabaikan peranan pH yang akan mengionisasi zat aktif atau menyebabkan
pengendapan sehingga penyerapan hanya terjadi pada daerah tertentu. 2. Umur , pada bayi dan anak-anak
sebagian dari system enzim yang belum berfungsi sempurna dapat terjadi
overdosis pada zat aktif tertentu karena tidak sempurna proses detoksifikasi
dan metabolic serta adanya gangguan saluran cerna sebagai akibat dari bahan
tertentu yang tidak terima. 3. Sifat
membrane biologis, sifat utama lipid memungkinkan teradinya difusi pasif
zat aktif dengan sifat lipofil tertentu dari bentuk yang tak terionkan
dilambung dan usus besar. 4. Laju
pelewatan dan waktu tinggal dalam lambung, zat aktif yang sukar diserap di
lambung seharusnya tidak tinggal lama dilambung. Oleh sebab itu, waktu
pengosongan lambung sebaiknya diusahakan terjadi lebih cepat. Sebaliknya bila
transit diusus berjalan lambat, hal itu menguntungkan bagi zat aktif yang hanya
diserap pada bagian tertentu saluran cerna, terutama dalam hal transport aktif.
Faktor yang dapat meningkatakan waktu pengosongan lambung diantaranya adalah volume,
konsistensi, keasaman, kandungan bahan tertentu yang berasa di saluran cerna,
hipertonisitas, keadaan emosi dan posisi berbaring pada sisi kanan. 5. pH dan perubahan pH karena formulasi , hanya
bentuk zat aktif yang tak terionkan yang mengalami penyerapan pasif dan
ditinjau dari pH lambung dan usus maka hanya zat aktif yang bersifat asam lemah
yang diserap di lambung dan yang bersifat basa lemah diserap usus. Perbedaan pH
disepanjang saluran cerna memungkinkan berkembangnya pembuatan sediaan yang tahan
cairan lambng atau sediaan dengan aksi terkendali. 6. Tegangan permukaan, pada
cairan usus tegangan permukaan menurun karena adanya garam empedu. Pengurangan
tegangan permukaan akan memudahkan pembasahan dan pelarut partikel yang semula
belum larut. 7. Kekentalan, hal ini
berpengaruh pada proses absorbs adanya hambatan pembasahan partikel dan menekan
laju pelarutan, menghambat proses difusi molekul zat aktif saat proses
pelarutan di mukosa penyerap, dan juga menghambat proses transit terutama
meningkatkan waktu tinggal dalam lambung. Factor patologi meliputi; 1. Gangguan fungsi penggetahan, pada gangguan psikis lebih berpengaruh pada
orang pemarah akan terjadi peningkatan pengeluaran getah lambung. Peningkatan
getah juga terjadi pada keadaan tukak duodenum lebih asam dan akan merusak
aktivitas enzim pankreatin sehingga menyebabkan penghambatan penyerapan atau
pelepasan zat aktif. 2. Gangguan transit,
adanya gangguan pada keadaan tertentu dapat menyebabkan lamanya ataupung
singkatnya waktu tinggal dilambung. Serta gerakan usus halus juga dapat
memoengaruhi waktu transit. 3. Gangguan
penyerapan, hal ini dapat teradi
karena pengurangan luas permukaan penyerapan seperti pembedahan atau
pemotongan. Perubahan media usus karena adanya penambahan senyawa antimikroba
atau antiparisit menyebabkan pemutusan ikatan konugasi dengan garam empedu.
Tidak adanya molekul pembawa, dan adanya hambatan pada pembuluh balik darah.
Dari
sekian factor yang mempengaruhi biofarmasetik ada juga mengenai zat aktif dari
formulasi sediaan. Bentuk sediaan dikaitkan dengan umlah zat aktif yang
diharapkan dapat dilepaskan sesuai dengan kinetika yang dikehendaki baik lambat
atau cepat hingga mencapai tempat tertentu dimana terletak di titik penyerapan
optimal. Dalam bentuk sediaan cair yang perlu diperhatikan adalah kelarutan
dari zat aktif dan zat aktif terdispersi. Kelarutan zat aktif dapat ditingkat
dengan cara : a. mengubah tetapan dielektrik bahan pembawa dengan penambahan
pelarutan campuran-air yang dapat dicampur secara fisiologik. b. melarutkan zat
aktif yang larut lemak kedalam pembawa yang terdispersi kedalam air dan bertipe
minyak yang teresterifikasi. c. mengubah zat aktif menjadi bentuk yang lebih
larut air dengan penggaraman, pembentukan berbagai interaksi atau pelauratan
dengan peambahan surfaktan pada konsentrasi yang lebih besar dari konsentrasi
miselar kritik. Pada bentuk sediaan emulsi atau suspense zat aktif yang
teremulsi dapat berupa fase terdispersi atau fase minyak yang terdispersi. Pada
sediaan emulsi terjadi pre-disposisi zat aktif yang dapat terjadi dengan cara
difusi zat aktif dari fase dalam menuju dase luar dan difusi fraksi zar aktif
yang terlarut dalam fase luar melintasi membrane biologic. Zat aktif dalam
sediaan suspense terjadi dalam dua tahap yaitu pelarutan zat aktif dan
penyerapan partikel hal tersebut tergantung pada keseimbangan antara karate
keterserapan zat aktif yang bertanggung jawab ada laju pengurangan konsentrasi
dalam fase luar. Serta kelarutan bentuk aktif bahan obat dalam fase luar.
Bentuk sediaan padat dapat berupa bentuk sediaan yang paling sederhana sampai
yang paling rumit yaitu,: bentuk serbuk harus terbasahi agar zat aktif
terlarut, bentuk kapsul atau bentuk terselubung cangkang atau selubung yang
harus dapat dirusak terlebih dahulu serta tablet atau tablet salut yang
strukturnya harus dirusak agar sediaan berada pada stadium serbuk.
Daftar pustaka :
Syukri, Yandi. 2007. Biofarmasetika. Yogyakarta. UII Press
Assalamualaikum...wr.wb.
udah lama engga pernah posting lagi
kali
ini bahas biofarmasetika, seorang pharmacist tentunya engga asing
dengan pelajaran ini meskipun sudah apoteker juga harus memahami ilmu
ini... Selamat membaca ^,^
SEMOGA BERMANFAAT
billahi fii sabilil haq fastabiqul khoirot
Wassalamualaikum warohmatullohi wabarokaatuh
ALaaaahhh... ko dawa temen tulisane... macane kesel owww...
BalasHapus